Tampilkan postingan dengan label 'Ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 'Ibrah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2010

Dua sayap kesuksesan

Untung dan rugi itu bukanlah disebabkan oleh sesuatu yang ada di sekeliling kita, tetapi tergantung bagaimana sikap kita terhadap sesuatu tersebut. Musibah akan bisa berubah menjadi nikmat apabila kita hadapi dengan penuh kesabaran, dan nikmat itu akan bisa berubah menjadi musibah apabila kita hadapi dengan sifat kufur terhadap nikmat tersebut. Jadi yang terpenting bagi kita adalah mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada di sekeliling kita, bukan menghabiskan waktu untuk menyesalinya. Karena semua yang ada di sekeliling kita adalah merupakan per-tanda kekuasaan Allah Swt bagi orang-orang yang berakal. Maka disini penulis akan menyaji-kan tulisan yang sangat sederhana agar kita bisa mengambil hikmah terhadap apa-apa yang ada di sekeliling kita.
Rasulullah Saw telah bersabda: “Jikalau kalian bertawakal kepada Allah dengan se-benarnya niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti burung. Pagi-pagi ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.'' (HR At-Tirmidzi) Tawakal dan ikhtiar adalah karakter burung. Satu sayap mengepakkan jiwa tawakal, satunya lagi mengepakkan jiwa ikhtiar. Keduanya digerakkan seirama dan seimbang, begitu indah dan harmonis. Dengannya, ia mampu menembus angkasa tinggi nan luas dengan wajah sangat gagah dan berwibawa. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari seekor burung yang tidak diberi akal oleh Allah Swt, tapi karena dua karakter yang ia miliki sehingga membuatnya bertahan hidup dan membawanya terbang tinggi ke angkasa sambil menikmati keindahan alam ini. Ikhtiar dan tawakallah yang bisa mem-bawa kita menjadi manusia sukses di permu-kaan bumi Allah ini, karena hasil yang kita da-patkan tentunya sesuai dengan kadar usaha yang telah kita lakukan. Tetapi kadang-kadang kita hanya disibukan menuntut hasil tanpa men-injau kembali usaha yang telah kita lakukan. Sebenarnya hasil yang akan kita dapatkan kebanya-kan jauh lebih baik dari usaha yang telah kita lakukan, sebagai pertanda kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Maka ahli hikmah pernah mengatakan “Jangan kamu sering bertanya tentang apa yang telah saya dapatkan, tetapi banyaklah bertanya tentang usaha apa yang telah saya lakukan”. Karena hasil itu tidak akan pernah berubah menjadi yang lebih baik, tanpa memperbaiki usaha kita terlebih dahulu. Kesungguhan ikhtiar dan tawakal merupakan tangga menuju kesuksesan. Ikhtiar merupakan satu-satunya penolong diri kita. Seperti yang diungkapkan oleh Yusuf bin Asbath, ''Berikhtiarlah kamu seperti ikhtiarnya seseorang yang tidak akan selamat tan-panya''. Tentunya kalau kita ingin sukses dalam menuntut ilmu, berdakwah, bisnis dan didalam segala hal, maka konsekwensi dari semua itu adalah kita harus memaksimalkan ikhtiar dan tawakal. Keduanya harus digerakkan seirama dan seimbang agar ia men-jadi dua sayap yang kokoh, dan akhirnya mampu membawa kita terbang tinggi menuju sebuah kesuk-sesan dunia dan akhirat. Nabi Musa berhasil membuktikan realitas ini. Ikhtiar Beliau yang maksimal akhirnya mendatangkan pintu kesuksesan dan pertolongan Allah. Hal ini ter-tera dalam firman Allah Swt: ''Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, 'Aku tidak akan ber-henti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. (QS : Al-Kahfi : 60). khair syuhada'

Baca selengkapnya ..

Minggu, 03 Januari 2010

Bersyukur dan Bersabar

Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik.Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.Swt. Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik. Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“ Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??. Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??” Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”. Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”. Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”. 1_701995151l.jpg Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”. Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia. Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”. Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan. Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah }سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24) “Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24) Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai” [1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5) [2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a’lam
Baca selengkapnya ..

Kamis, 31 Desember 2009

Awal menentukan Akhir.

Bila kita menanam sebuah pohon, tentu dimulai dengan menanam bibit yang baik. Bibit itu lalu disiram dan dirawat seta disiangi dari ilalang dan rumput agar tumbuh pohon yang subur lagi berbuah lebat. Begitupula amalan kita hendaklah dimulai dengan sesuatu yang baik, misalnya dri kata yang disebut niat. Niat merupakan komponen yang paling urgen karena dengannya akan dihasilkan suatu amalan. Dengan ungkapan lain, suatu amalan tergantung dari niatnya.Niat yang ikhlas akan menghasilkan amalan yang berbuah baik. Seseorang yang bkerja setiap hari kdengan niat hanya mengharap keredhaan AllahSwt insya Allah tidak akan mengeluh, tidak akan surut langkahnya dan tidak akan pernah putus asa. Hal ini dikarenakan ia tahu benar bahwa yang dilakukannya semata2 karena AllahSwt. Sebaliknya apabila suatu amalan diniatkan untuk selain AllahSwt, maka pelakunya hanya mendapatkan sekedar dari yang diusahakannyaitu. Sebagai contoh, ada orang yang menuntut ilmu hanya sekedar untuk dianggap orang berkedudukan atau ada yang bekerja hanya sekedar mencari pangkat dan ada pula yang beribadah supaya dianggap shaleh. Semua kkelompok ini tidak akan mendapatkan kecuali yang diniatkannya itu saja. Sekarang terserah kita, jalan manakah yang akan dipilih? Untuk itu, selalulah memperbaharui niat dalam berbuat. Selain itu iringi dengan do’a agar AllahSwt senantiasa membimbing dan memberi petunjuk dalam setiap langkah kita. Awal menentukan akhir, itulah yang harus kita garis bawahi. Darimana permulaan dari amalan kita itu pulalah buah yang akan kita petik.Niat bisa merubah amalan kecil menjadi besar nilainya, amalan biasa menjadi luar biasa. Ikhwatifillah,,,siapa yang berjuang karena mengharapkan keredhaan AllahSwt akan sampai ketujuan, namun bagi siapa yang beramal karena mengharapkan keduniaan maka akan putus ditengah jalan. Inggatlah..Awal menentukan Akhir. Maka marilah kita awali hidup dan segala aktivitas dengan niat yang baik.

Baca selengkapnya ..

Selasa, 29 Desember 2009

Makna dari Sebuah Kesuksesan

Para Pembaca yang disayangi Allah, setiap orang pastilah menginginkan kesuksesan di dunia ini. Namun tidak semua orang yang ’sukses’ dapat merasakan sukses tersebut dengan sebenarnya. Dengan kata lain, kesuksesan yang diraihnya tidak membawa kebahagiaan bagi dirinya. Mengapa? Karena mereka salah dalam memahami definisi dan tujuan kesuksesan itu sendiri. Kalau kesuksesan indikatornya hanyalah berkelimpahan harta, ketenaran ataupun jabatan yang tinggi, pada dasarnya hal itu bukan merupakan kesuksesan sejati. Indikator kesuksesan sejati adalah adanya keseimbangan hidup. Keseimbangan antara pemenuhan hak diri sendiri serta dapat memenuhi hak orang-orang di sekitar kita.Di samping itu bagaimana kita juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Hidup kita dirasakan berguna bagi orang lain. Dan kita juga dapat menikmati setiap keberhasilan yang kita raih baik keberhasilan kecil maupun besar. Dan kalau nanti kita telah meninggalkan dunia ini dapat kita akhiri dengan‘akhir yang baik’ yakni meninggalkan warisan bermakna. Berkarya untuk orang lain yang manfaatnya berdimensi lama dan dirasakan oleh sebanyak-banyaknya orang. Bahkan kalau bisa karya tersebut tetap bermanfaat bagi orang lain setelah Anda meninggal. Jika Anda terbalut hanya dalam pemenuhan hak diri semata dalam bingkai indikator ‘kesuksesan semu’ maka hanya kelelahan yang Anda dapatkan. Saatnya keluar dari kungkungan ini untuk melihat lebih luas. Raihlah kesuksesan sejati dengan menikmati apapun keberhasilan yang kita raih, besar, kecil, banyak sedikit. Bersyukurlah dengan apa yang didapat dan dimiliki. Jadilah orang yang mempunyai banyak ’setoran’ kebaikan bagi orang lain. Agamapun menyuruh kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Jangan memandang besar kecil yang kita berikan, tetapi utamakan proses yang dilakukan dengan berkesinambungan. Dan jangan lupa dengan tujuan hidup kita. Buatlah bayangan diri di akhir hayat serta di negeri akhirat kelak. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Karena inilah muara setiap manusia. Manusia pasti mengalami kematian dan manusia akan hidup di negeri akhirat. Oleh karenanya persiapan bekal amal ibadah. Dalam bingkai kesuksesan sejati insya Allah bekal kita kan cukup untuk membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga bermanfaat
Baca selengkapnya ..

Sabtu, 26 Desember 2009

Pelajaran berharga dari gadis kecil


Seorang gadis kecil pulang dari sekolah. Setibanya di rumah, ibunya melihat anak putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya.

Anak: “Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.”

Ibu: “Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.”

Anak: “Benar, wahai ibu, akan tetapi ibu guru tidak menghendakinya.”

Ibu: “Baiklah, wahai putriku, guru itu tidak menghendaki, tetapi Allah meng­hendakinya. Lalu siapakah yang akan kamu taati? Apakah kamu akan mentaati Allah yang telah menciptakanmu dan membentukmu, serta yang telah mengaruniakan kenikmatan kepadamu? Ataukah kamu akan mentaati seorang makhluk yang tidak mampu memberikan manfaat dan madharat kepada dirinya?”

Anak: “Sesungguhnya saya akan taat kepada Allah.”

Ibu: “Bagus, wahai putriku, kamu tepat sekali.”

Pada hari berikutnya, gadis kecil itu pergi dengan mengenakan baju yang panjang. Tatkala ibu guru melihatnya, ia langsung mencela dan memarahinya dengan keras. Gadis kecil itu tidak mampu memikul amarah tersebut, ditambah lagi oleh pandangan teman-teman perempuannya yang mengarah kepadanya.

Tidak ada yang ia lakukan selain berteriak menangis. Kemudian, gadis kecil itu mengeluarkan kata-kata yang besar maknanya meski sedikit jumlahnya, “Demi Allah, saya tidak tahu siapa yang akan saya taati, anda ataukah Dia?”

Ibu guru itu pun bertanya, “Siapakah Dia itu?”

Anak itu menjawab, “Allah. Apakah saya harus taat kepada anda, sehingga saya mesti memakai pakaian seperti yang engkau kehendaki, tetapi saya berbuat maksiat kepada-Nya. Ataukah saya mentaati-Nya dan tidak mentaati engkau? Ah, biarlah saya akan mentaati-Nya saja, dan apa yang terjadi terjadilah.”

Aduhai, betapa agungnya kalimat yang keluar dari mulut si kecil itu. Sebuah kalimat yang menampakkan wald (ketaatan) yang mutlak kepada Allah M. Gadis kecil itu bertekad untuk berpegang kuat dan taat ke­pada perintah Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa

Akan tetapi….apakah bu guru itu hanya berdiam saja darinya?

Ibu guru itu meminta dipanggilkan ibu si anak kecil tersebut. Apa yang ia inginkan darinya?

Maka datanglah si ibu itu…

Ibu guru berkata kepada ibu anak kecil itu, “Sesungguhnya putri anda telah menasihatiku dengan nasihat paling besar yang pernah aku dengar di sepanjang hidupku.”

Benar, ibu guru telah mengambil pelajaran dan nasihat dari murid kecilnya. Ibu guru yang mengajarkan pendidikan dan telah mengambil bagian yang besar dari ilmu.

Seorang guru yang ilmunya tidak dapat menghalanginya untuk mengambil nasihat dari seorang gadis kecil yang mungkin seusia dengan putrinya.

Salam penghormatan, semoga terlimpahkan kepada guru ini. Salam peng­hormatan juga untuk gadis kecil yang telah memberikan pendidikan Islamiyah dan telah berpegang kepadanya.

Salam penghormatan untuk sang ibu yang telah menanamkan dalam diri putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang ibu yang yang telah mengajarkan kepada putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Wahai ibu-ibu muslimah, di depan anda lah anak-anak anda. Mereka seperti adonan tepung. Anda bisa membentuknya sebagai-mana yang anda kehendaki, maka bersegera-lah untuk membentuk mereka dengan bentuk yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ajarkanlah shalat kepada mereka
Ajari mereka ketaatan kepada Allah
Ajari mereka untuk bisa tetap tegar dan kokoh di atas kebenaran
Ajarkanlah semua itu kepada mereka, sebelum mereka menginjak usia baligh.

Karena jika pada saat mereka masih kecil tidak mendapatkan pendidikan yang baik, maka sesungguhnya anda sekalian akan menyesal dengan penyesalan yang besar, karena mereka akan menjadi anak-anak yang menyimpang pada saat mereka telah dewasa.

Gadis kecil ini tidak hidup pada zaman Sahabat dan juga Tabi’in. Sesungguhnya ia hidup pada zaman modern sekarang ini.

Ini menunjukkan bahwa, kita bisa menciptakan generasi-generasi semisal gadis kecil tersebut dengan izin Allah. Seorang gadis kecil yang bertakwa lagi berani untuk menampakkan kebenaran serta tidak takut akan cemoohan dan ejekan orang-orang, demi membela agama Allah.

Wahai saudariku yang beriman, inilah putrimu. Ia berada di hadapanmu. Berilah ia minum dengan air takwa dan keshalihan.

Perbaikilah lingkungannya dengan cara menjauhkannya dari air yang kotor serta bakteri yang membahayakan.

Hari-hari telah berada di hadapan anda— Perhatikanlah apa yang akan anda perbuat terhadap amanah yang telah dititipkan kepada anda oleh Allah Tuhan Pemilik langit dan bumi.
Baca selengkapnya ..
© 2009 - Khair syuhada' & friska syahidah | Free Blogger Template designed by Choen

Home | Top